Bandung – Ketua Umum Rumah Relawan Pendidikan Anak Bangsa Indonesia (RPABI), Rahmien Liomintono, dalam sebuah audiensi dengan perwakilan Kementerian Agama (Kemenag) Jawa Barat, menyampaikan keprihatinan mendalam mengenai tingkat buta baca tulis Al-Qur’an di kalangan umat Islam Indonesia yang masih sangat tinggi.
Dalam pertemuan yang berlangsung di kantor Kemenag Jabar, Rahmien Liomintono memaparkan data mengejutkan bahwa 72,25% umat Islam di Indonesia masih tuna aksara Al-Qur’an. Fakta ini menjadi sebuah ironi besar mengingat Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduk Muslim terbesar di dunia.
“Ini adalah keprihatinan kita bersama, bagaimana mungkin di negara dengan jumlah Muslim terbesar, masih banyak saudara kita yang belum bisa membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar,” ujar Rahmien Liomintono dalam kesempatan tersebut.
Solusi Inovatif: Metode Al-Qur’an Follow the Line (FtL)
Menjawab tantangan ini, RPABI bersama Penerbit Sumbercitra telah mengembangkan sebuah solusi inovatif berupa Al-Qur’an Metode Follow the Line (FtL). Metode ini dirancang untuk menjadikan proses belajar membaca Al-Qur’an menjadi lebih efektif dan menyenangkan.
Metode FtL telah melalui uji coba dan penilaian kelayakan yang ketat, serta telah dinyatakan layak untuk diterapkan di berbagai jenjang pendidikan, mulai dari Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI), Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA), hingga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Lebih dari sekadar mengajarkan kemampuan membaca, metode FtL juga difokuskan untuk membentuk karakter dan spiritualitas siswa, sejalan dengan tujuan pendidikan nasional. Pendekatan ini diharapkan dapat menumbuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga kuat secara moral dan spiritual.
Tantangan Implementasi dan Permohonan Dukungan
Meskipun telah berupaya mengetuk banyak pintu, mulai dari lembaga pendidikan hingga Balai Pustaka, Rahmien Liomintono mengungkapkan tantangan dalam mendapatkan dukungan yang memadai untuk implementasi metode FtL.
“Kami sudah berusaha keras, namun dukungan yang kami terima masih minim. Kami berharap Kemenag Jabar dapat memberikan perhatian dan dukungan penuh agar program mulia ini bisa berjalan lancar di wilayah Jawa Barat,” pintanya.
Lebih lanjut, Rahmien Liomintono berharap metode FtL dapat diadopsi secara nasional. Dukungan dari GEMIRA (Gerakan Muslim Indonesia Raya) Partai Gerindra menjadi salah satu harapan besar untuk mewujudkan visi ini.
Selain itu, dalam audiensi tersebut juga diperkenalkan karya pendamping “Menulis Juz Amma Tulis”, sebuah buku yang dirancang untuk membantu persiapan spiritual jamaah haji. RPABI menegaskan komitmennya untuk terus berjuang membumikan Al-Qur’an di seluruh penjuru Indonesia.
“Kami akan terus berjuang agar setiap Muslim di Indonesia dapat membaca dan memahami Al-Qur’an. Ini adalah tanggung jawab kita bersama,” tutup Rahmien Liomintono.
Audiensi antara RPABI dan Kemenag Jabar ini diharapkan menjadi langkah awal yang signifikan dalam upaya mengatasi buta baca tulis Al-Qur’an di Indonesia. Dengan metode yang inovatif dan dukungan yang tepat, harapan untuk mencetak generasi Muslim yang qur’ani semakin terbuka lebar.